PENGEMBANGAN TES
HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN COMPUTER BASED
TESTING (CBT) PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)
KELAS VIII
DI SMP N 1
KUBUNGKABUPATEN SOLOK
RICHA KRISMA
2011 / 1100347
KURIKULUM DAN
TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
Abstract
Research background in SMP Negeri 1 lemur Kab. Solok,
it seems that the measurement of student learning outcomes is still less well
and test execution with a computer-aided can not be implemented because of
inadequate facilities and other constraints. This
study aims to generate test program learning outcomes in the subject area
Information and Communication Technology (ICT) are valid and practical in
measuring learning outcomes.
The method used in this research is research and development. There
are three general stages in this research: analysis of needs, which at this
stage the researchers conducted a needs analysis of the product. Planning
at this stage the researchers conducted the design and development of test
programs in two forms, namely paper base and a computer base.
In the paper-based test questions tested the students as much as 20
respondents with a lot of problems there are 60 items and 33 items about 27
items declared valid and invalid matter, further improvements to the matter
declared invalid. Then
the obtained test the validity of the comparison with the value of 0.64 with a
significant level and reliability problems with high releabilitas namely 0.73.
Based on the testing and validation of the test on the medium in which the
matter is validated by means of self evaluation by peers and validation by
expert review. The
tests assessed 94%, which means it has reached the validity. From
the results of the assessment CBT products that have been repaired are then
tested to the field to determine the practicality, and the results have
practicality 82% and also the potential effects of the implementation of the
evaluation study with CBT was of 84%.
Kata
Kunci : Development, Computer Based Testing (CBT), Information Technology and Communications
Abstrak
Latar
belakang penelitian di SMP Negeri 1 Kubung Kab. Solok, terlihat bahwa
pengukuran hasil belajar siswa masih kurang begitu baik dan pelaksanaan ujian
dengan berbantuan komputer belum dapat dilaksanakan dikarenakan fasilitas yang
belum memadai dan kendala-kendala lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk
menghasilkan program tes hasil belajar pada bidang mata pelajaran Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) yang valid dan praktis dalam mengukur hasil
belajar.
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah research and development. Ada 3 tahap umum yang
dilakukan dalam penelitian ini : analisa kebutuhan, dimana pada tahap ini
peneliti melakukan analisis kebutuhan produk. Perencanaan pada tahap ini
peneliti melakukan perancangan dan pengembangan program tes dalam dua bentuk
yaitu paper base dan computer base.
Pada uji coba paper based soal diuji cobakan kepada siswa sebanyak 20 responden
dengan banyak soal 60 butir soal dan terdapat 33 item soal dinyatakan valid dan
27 item soal tidak valid, selanjutnya dilakukan perbaikan terhadap soal yang
dinyatakan tidak valid. Kemudian di peroleh uji validitas perbandingan dengan
nilai 0.64 dengan taraf signifikan dan reliabilitas soal dengan releabilitas
tinggi yakni 0.73.
Berdasarkan uji coba dan validasi dimana
soal tes pada media ini dilakukan validasi dengan cara self evaluation oleh teman sejawat dan validasi oleh expert review. Hasil validasi dinilai
94% yang berarti telah mencapai kevalidan. Dari hasil penilaian Produk CBT yang
telah diperbaiki tersebut maka di uji
coba ke lapangan untuk mengetahui kepraktisannya, dan hasilnya memiliki
kepraktisan 82% dan juga efek potensial pelaksanaan evaluasi belajar dengan CBT
ini sebesar 84%.
Kata
Kunci : Pengembangan, Computer Based
Testing (CBT), Teknologi Informasi dan Komunikasi
PENDAHULUAN
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan dampak besar dan sangat
berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan manusia tak terkecuali pada bidang
pendidikan. Salah satu hal menarik yang perlu dikaji bersama adalah sejauh mana
peran teknologi informasi bisa memberi jawaban atas permasalahan khususnya di
dunia pendidikan.
Teknologi
informasi telah membawa perubahan yang signifikan bagi pendidik itu sendiri
untuk senantiasa mengevaluasi, memperbaiki dan mengembangkannya menjadi lebih
baik lagi, baik dalam penggunaan pendekatan, strategi, metode, model dan media
pembelajaran yang digunakan serta dengan perkembangan dan kemajuan teknologi
ini telah banyak digunakan dalam berbagai aspek salah satunya dalam system
pelaksanaan evaluasi.
Pelaksanaan
evaluasi ini bertujuan untuk melakukan pengumpulan data yang dapat digunakan
dalam mengambil keputusan serta mengukur sejauh mana tujuan tersebut tercapai.
Sesuai dengan pengertian evaluasi menurut Wandt dan Brown dalam Anas Sudjono
(2012 : 7). Evaluation refer to the act
or process to determining the value of something yang mengandung pengertian
suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Oleh karena itu, cara atau prosedur yang
ditempuh untuk memperoleh data dari pengukuran tersebut yakni dengan
menggunakan tes berbantuan komputer (Computer
Based Testing).
Penerapan
CBT telah dilaksanakan di berbagai lembaga dan instansi-instansi pemerintah
maupun perguruan tinggi secara resmi sebagai sistem evaluasi. Sistem evaluasi
ini sangat menunjang efektifitas penilaian dan pelaksanaan program yang telah
diterapkan oleh salah satu instansi pemerintah yakni Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan dalam pelaksanaan tes Ujian Nasional (UN) Computer Based Testing (CBT) pada tahun 2014.
Computer Based Testing
ini memungkinkan sekolah untuk memperoleh penghematan, terutama dari sektor
pencetakan naskah dan pemindaian, dan juga dengan sistem Computer Based Testing ini akan memberikan kesempatan yang lebih
banyak kepada peserta didik untuk mengikuti ulangan atau tes. Seperti
dikemukakan Gladwell (2008), “waktu dan frekuensi tes sangat menentukan
kualitas hasil”. Hal lain yang diingatkannya adalah cara menyelenggarakan tes
menentukan prestasi. Selain itu juga memberikan keluwesan waktu kepada peserta
didik untuk mengikuti tes serta memberikan kecepatan layanan, mulai dari
pendaftaran sampai dengan pengumuman. Namun
pada penyelenggaraan tes maupun penyelenggaran ujian di sekolah dari tahun ke
tahun selalu memunculkan persoalan mulai hal teknis percetakan, kecurangan,
hingga dugaan kebocoran dan pemalsuan.
Berdasarkan
hasil wawancara dan observasi yang penulis lakukan pada beberapa siswa dan guru
mata pelajaran Teknologi Informasi Komunikasi SMP N 1 Kubung Kab. Solok pada
bulan Mei 2015 yang penulis laksanakan pada saat siswa selesai melaksanakan
ujian akhir sekolah dan diperoleh sejumlah informasi diantaranya mengenai
kenapa dilakukan penilaian tes hasil belajar menggunakan paper base di sekolah
pada mata pelajaran TIK. Untuk menjawab hal tersebut, dari hasil survei awal
dilapangan didapatkan informasi dari guru-guru yang mengajar TIK bahwa belum
adanya instrumen (alat) penilaian yang dapat mengukur hasil belajar siswa
secara langsung atau otomatis.
Namun
jika dilakukan ujian dengan berbantuan komputer, menurut hasil wawancara dengan
salah satu gutu TIK yaitu bapak Boris Askar (Mei 2015) akan muncul
kendala-kendala sebagai berikut : pengawasan jumlah siswa yang terlalu banyak
dalam pelaksanaan ujian, waktu pelaksanaan tes yang tidak cukup (terlalu lama),
peralatan komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswa, kondisi fasilitas
penunjang seperti daya listrik yang tidak selalu baik disetiap sekolah, kondisi
komputer yang kadang mengalami kemacetan, bahan ujian praktek yang memerlukan
pemeriksaan secara individual tiap-tiap tes.
Serta
permasalahan yang kerap dihadapi oleh siswa saat mengikuti ujian yaitu tes
dilakukan secara tertulis dalam kertas (paper
based test), adanya siswa yang menyontek dan ada memberi contekan sesama
siswa. Siswa kebingungan ketika harus berhadapan dengan lembaran soal untuk
menjawabnya, padahal selama pembelajaran mereka lebih banyak praktek di
laboratorium komputer. Ada juga siswa yang
mengetahui dan memahami materi , namun ketika menjawab soal dilembaran
kertas siswa menjadi lupa dan menjawab asal-asalan. Siswa sulit mengingat
langkah-langkah dalam menjalankan sesuatu dan saat hal itu ditanyakan maka
mereka tidak bisa menjawab dengan tepat serta siswa tidak bisa melihat secara
langsung skor yang dicapainya saat ujian.
Berdasarkan
permasalahan yang diperoleh pada saat wawancara dan observasi, penulis melihat
bahwa pengukuran hasil belajar siswa masih kurang begitu baik dan pelaksanaan
ujian dengan berbantuan komputer belum dapat dilaksanakan dikarenakan fasilitas
yang belum memadai dan kendala-kendala lainnya.
Penelitian
ini bertujuan untuk menghasilkan tes hasil belajar menggunakan Computer Based Testing (CBT) pada mata
pelajaran TIK kelas VIII di SMP N 1 Kubung Kab. Solok yang valid, serta
mengetahui kelayakan CBT oleh para ahli dan subjek coba. Sehingga para guru
bidang TIK, dengan hasil program CBT ini dapat bermanfaat sebagai fasilitas
penunjang kemudahan penilai hasil belajar. Bagi siswa, dapat menjadi sarana
latihan dan pelajaran TIK kelas VIII SMP yang diharapkan berefek fotensial
dalam meningkatkan motifasi belajar.
METODE
PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, aka metode
penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau Development Research (Sugiyono, 2009). Model
pengembangan yang penulis gunakan yaitu model pengembangan prosedural yang
terdiri dari 6 tahap yaitu identifikasi kebutuhan, perencanaan, produksi
produk, validasi, uji coba, dan revisi. Penelitian ini akan mengembangkan
program tes kemampuan penggunaan Microsoft
Word 2007 pada mata pelajaran TIK kelas VIII.
1. Identifikasi
kebutuhan
Pada tahap ini peneliti melakukan
wawancara dengan teman sejawat dan observasi terhadap pelaksanaan latihan dan
evaluasi hasil belajar siswa serta menentukan semester dan materi pembelajaran
yang akan dibuat dalam media dan instrument penilaian.
2. Perencanaan
Tahap perancangan terdiri dari lima
langkah. Dari kelima langkah tersebut, tiga langkah pertama merupakan bagian
dari desain instrument penilaian. Dua langkah terakhir adalah bagian dari desain
media.
3. Produksi
Produk
Pada kegiatan produksi produk, peneliti
membuat program yang telah disusun dari kelima langkah diatas. Hasil produksi
media yang telah dibuat berbentuk program aplikasi berbasis flash. Program ini
terdiri hanya satu file aplikasi macromedia flash.
4. Validasi
Uji validasi terhadap produk dapat dilakukan
oleh ahli yang kompeten pada lembaran penilaian kelayakan media dan keterkaitan
standar kompetensi, kompetensi dasar serta indikator pencapaian dengan tes dan
kelayakan media. Dalam hal ini yang dilibatkan adalah ahli media dan ahli
materi.
5. Uji
coba
Uji coba merupakan upaya untuk melihat
kualitas produk menurut Subjek Coba. Subjek coba pada pengembangan produk ini
berjumlah 15 siswa kelas VIII SMP N 1 Kubung Kab. Solok. Setelah mendapatkan
penilaian dan komentar dari subjek coba, kemudian dilakukan penyempurnaan.
6. Revisi
Merupakan
perbaikan dan penyempurnaan terhadap produk dengan memperhatikan dan
menganalisis masukan-masukan yang diperoleh berdasarkan penilaian dan komentar
yang diberikan oleh para subjek coba pada tahapan uji coba. Jika dirasa, produk
belum layak untuk disebarluaskan maka kembali dilakukan pengembangan produk,
validasi produk dan uji coba. Sebaliknya, jika dirasa, produk telah layak untuk
digunakan maka produk dapat disebarluaskan
HASIL PENELITIAN
1. Identifikasi
Kebutuhan
Pada tahap identifikasi kebutuhan
peneliti melakukan wawancara dengan beberapa siswa serta guru mata pelajaran
TIK kemudian melakukan observasi terhadap pelaksanaan latihan dan evaluasi
hasil belajar siswa serta menentukan semester dan materi pembelajaran yang akan
dibuat dalam media dan instrument penilaian.
2. Perencanaan
Tahap perancangan terdiri dari lima
langkah. Dari kelima langkah tersebut, tiga langkah pertama merupakan bagian
dari desain instrument penilaian. Dua langkah terakhir adalah bagian dari
desain media.
1) Penentuan
tujuan tes
Penentuan tujuan tes sebenarnya dilakukan dari
langkah analisis kebutuhan sebelumnya. Secara lengkap penentuan tujuan tes akan
melihat Standar Kompetensi (SK) dan kompentensi Dasar (KD) mata pelajaran
tersebut. Pada pembelajaran TIK kelas VIII semester genap terdiri dari satu
Standar Kompetensi dan empat Kompetensi Dasar.
2) Penyusunan
kisi-kisi tes
Penyusunan kisi-kisi tes ini berisikan KD, bahan
semester, materi, indikator soal, bentuk tes dan nomor tes.
3) Pengolahan
Soal
Pembuatan soal sebanyak 60 butir yang dijadikan sebagai perangkat tes.
Berdasarkan pengolahan data menggunakan Ms.
Excel untuk melihat indek kesukaran, validitas dan reliabilitas tes, maka dari
hasil yang diperoleh terdapat 39 butir soal dengan kriteria mudah dan 21 butir
soal dengan kriteria sedang , untuk mengetahui indeks kesukaran
dari soal di peroleh dengan rumus :
Indek kesukaran =

Untuk mengetahui validitas soal maka diperoleh
sejumlah informasi dari 60 butir soal yang diberikan terdapat 33 butir soal
yang valid dan 27 butir soal yang tidak valid dengan demikian penulis melakukan
revisi pada soal yang dinyatakan tidak valid. Kemudian diperoleh nilai
validitas perbandingan 0.64, untuk N=20, nilai taraf signifikansi 0.05 adalah
sebesar 0.444 pada tabel korelasi product
moment.
Dengan ro>r1 (0.64 >
0.444) sehingga hipotesis nihil ditolak berarti antara variable X dengan
variable Y terdapat korelasi positif yang signifikan. Kemudian reliabilitas
tesnya berada pada kategori reliabilitas tinggi dengan nilai 0.73 nilai ini
berada pada range 0.60 ≤ r11 < 0.79.
4) Menentukan
jenis media yang akan digunakan
Pada awal desain, dimulai dengan menentukan media
program apa yang akan digunakan. Dalam penelitian ini diputuskan untuk
menggunakan program Macromedia Flash 8.
5) Membuat
Naskah Pembuatan Media
Naskah pembuatan media dalam istilahnya (paper-based) merupakan perancangan yang
dilakukan dengan membuat naskah (storyboard).
Tahap ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang bentuk dan isi tampilan
pada media.
3. Uji
Coba dan Evaluasi
a) Evaluasi
Diri (Self Evaluation)
Pada tahap ini peneliti melakukan
evaluasi terhadap produk Computer Based
Testing (CBT) yang dihasilkan. Evaluasi dilakukan untuk melihat validitas
produk menurut peneliti dan teman sejawat. Sebagai alat pengukur kevalidan maka
perlu diketahui tujuan pembelajaran dan pelaksanaan kegiatan pembelajar yang
akan berkaitan dengan evaluasi.
b) Evaluasi
Ahli (Expert Evaluation)
Evaluasi ahli terhadap program CBT ini dilakukan
oleh empat orang validator yaitu dua orang ahli materi dan dua orang ahli
media.
Persentase respon dari ahli materi =
x 100 = 90% (sangat baik). Dengan hasil 88%
maka masuk kategori baik. Oleh karena itu instrument penilaian ini berarti
valid dapat diterima.
Persentase respon dari ahli media =
x 100 = 97% (sangat baik). Dengan hasil 97%
maka masuk kategori sangat baik. Oleh karena itu instrument penilaian ini
berarti valid dapat diterima. Dari rata-rata kedua validator didapatkan :
Validasi expert =
= 94%
Berarti instrument penilaian. Untuk saran validator yang telah
diperbaiki dapat dilihat pada lampiran validasi. Berdasarkan pada total
rata-rata validasi diatas dapat dijelaskan bahwa penilaian pertama yang
dihasilkan sudah memenuhi kriteria, namun diperlukan beberapa revisi.
Saran-saran dari ahli yang terlampir dijadikan masukan untuk revisi penilaian.
Dapat dijelaskan bahwa produk CBT dikembangkan
berdasarkan dari masukkan-masukkan yang diberikan validator pada produk CBT.
Bagian-bagian yang perlu diperbaiki adalah warna background, jenis tulisan, suara tombol, suara narator dan score
akhir tes evaluasi. Setelah dilakukan perbaikan, maka produk CBT dinyatakan
valid, dan evaluasi dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
c) Evaluasi
satu-satu (one-to-one evaluation)
Evaluasi satu-satu (one-to-one) dilakukan dengan tiga orang siswa dari kelas VIII siswa
yang dipilih mewakili siswa dengan kemampuan rendah, sedang dan tinggi.
Penggunaan instrument penilaian ini dilaksanakan dengan menggunakan PC
komputer. Pada instrument penilaian siswa akan diberikan empat pertanyaan
kemudian siswa dapat memberikan respon.
Tujuan pengukuran respon siswa terhadap penggunaan instrument
penilaian adalah untuk mengetahui tingkat kepraktisan dari instrument penilaian
ini. Dijelaskan bahwa 3 siswa pada evaluasi satu-satu sudah dapat menggunakan
media instrument penilaian yang dikembangkan dengan membaca terlebih dahulu
menu bantuan. Namun untuk latihan salah satu siswa mengalami kesulitan dalam
mengerjakan. Hal ini dikarenakan petunjuk pengerjaan yang tidak dibaca, karena
posisi petunjuk berada dibawah.
Jika dilihat dari hasil pengukuran kepraktisan yang
dibuat pada tabel 6. Dapat diambil kesimpulan bahwa produk CBT memiliki tingkat
kepraktisan sangat baik dengan 92%.
Berdasarkan masukan dari validator, komentar dan
tanggapan siswa pada evaluasi one-to-one,
dilakukan revisi terhadap produk CBT, untuk dikembangkan menjadi produk yang berkualitas.
d) Evaluasi
kelompok kecil (small group)
Evaluasi kelompok kecil (small group) dilakukan
dengan lima belas siswa dari SMP N 1 Kubung pada tanggal 09 Juni 2015.
Pemilihan siswa didasarkan pada kemampuan siswa, yang mewakili karakter siswa
yang akan menjadi objek penelitian.
Dari penilaian angket siswa terhadap produk CBT
memiliki nilai presentase rata-rata total 82% yang artinya sangat baik. Hal ini
berarti bahwa CBT sudah memenuhi kriteria sebagai alat instrument penilaian
yang praktis.
Jika mengukur kevalidan dari segi penilaian, maka
dapat dilihar dari perbandingan nilai ujian praktek dengan program sesungguhnya
(Microsoft Word) dengan hasil ujian menggunakan Computer Based Testing (CBT). Tabel 9 dibawah ini akan menghitung
rengtang nilai dari kedua cara tersebut.
Produk CBT yang sudah dikembangkan dengan uji coba
lapangan, dilakukan untuk melihat efek
potensial terhadap hasil belajar siswa. Uji coba ini dilaksanakan pada kelas
VIII SMP N 1 Kubung pada tanggal 09 Juni 2015. Sebelum pelaksanaan penggunaan
hasil produk CBT, siswa diberikan pre-test untuk melihat kemampuan awal siswa
hasil belajar. Pre-test dilakukan dengan 2 bentuk yaitu dalam bentuk soal
pilihan ganda dan dalam bentuk soal ujian praktek.
Selanjutnya penilaian efek potensial dari
praktikalitas media pada saat uji coba, berdasarkan hasil observasi selama
kegiatan tes dengan uji coba. Pada kegiatan evaluasi siswa yang dilakukan oleh
15 observer adalah sebagai berikut :
a) Keseriusan
siswa selama mengerjakan evaluasi. Dari hasil observasi, 15 orang siswa Nampak
sangat serius saat menjawab soal-soal yang ada. 100% serius.
b)
Kesesuai kebutuhan waktu dengan
kemampuan siswa dalam mengerjakan evaluasi. Dari 15 orang yang melakukan
evaluasi, hanya satu orang siswa yang sangat lambat dalam mengerjakan soal.
Dari observasi tersebut 15 : 2 = 80% kebutuhan waktu mencukupi.
c) Potensi
keamanan dari keinginan siswa untuk mencontek (seperti: berdiri, menghampiri
teman, bertanya-tanya dengan teman). Hanya ada dua orang siswa mencoba bertanya
pada teman. Namun tidak mendapatkan hasil. Setelah itu, siswa Nampak sibuk
dengan komputernya masing-masing. 80% siswa jujur dalam evaluasi ini.
d) Potensi
motifasi siswa dalam mencoba kembali alat instrument penilaian ini. Dari 15
orang siswa setelah melakukan evaluasi, 10 siswa meminta untuk dapat mengulang
kembali evaluasi. 80% siswa termotifasi untuk mencoba kembali ujian.
e) Potensi
peningkatan motivasi untuk mengikuti pembelajaran remedial maupun pengayaan
guna perbaikan dan peningkatan nilai yang dicapai.
Setelah mengetahui tingkat nilai yang mereka
dapatkan, 9 orang mencoba untuk membuka latihan untuk mempelajari kembali apa
yang salah dari jawaban yang mereka berikan. 4 orang mencoba untuk mengulang
evaluasi tanpa seizing pengawas, pada waktu yang tersisa untuk memperbaiki
nilai. Dari hal tersebut, potensi semangat dalam penggunaan media ini dapat
dikatakan 80% siswa sangat berkeinginan
menuntaskan dan mendapatkan nilai yang tinggi dengan alat evaluasi tersebut.
Tanpa rasa yang membosankan buat mereka.
Jadi, efek potensial juga terlihat
dari hasil observasi dari lima kriteria penilaian hasil observasi 84%.
4.
Revisi
Revisi
merupakan perbaikan dan penyempurnaan terhadap produk dengan memperhatikan dan
menganalisis masukan-masukan yang diperoleh berdasarkan penilaian dan komentar
yang diberikan oleh para subjek coba pada tahapan uji coba antara lain : a) Menu
petunjuk seharusnya diletakkan di atas.
b) Penentuan
skor total setelah menjawab tes evaluasi.
Dari
komentar yang diberikan oleh siswa tersebut, penulis sudah melakukan revisi
kembali terhadap produk CBT atas komentar yang diberikan oleh subjek coba.
A.
Pembahasan
1.
Validitas
dan Pratikalitas Pengembangan Computer
Based Testing (CBT)
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan tes hasil belajar menggunakan Computer Based Testing (CBT) pada mata
pelajaran TIK kelas VIII. Instrument penilaian atau tes yang dihasilkan telah
teruji validitasnya. Berdasarkan hasil uji validasi dari exper (pakar) menunjukkan bahwa CBT yang di uji cobakan sudah
memenuhi syarat kesesuaian dari aspek materi pelajaran dengan soal-soal yang
dibuat, selain itu simulasi pertanyaan dan jawaban juga sudah mewakili kondisi
praktek yang ada.
Gronlund
dalam Sukardi (2011 : 29) Mengemukakan bahwa valid dapat diartikan sebagai
ketepatan interpretasi yang dihasilkan dari skor tes atau instrument evaluasi.
Validator
media dan materi memberikan penilaian cukup valid terhadap produk CBT yang dihasilkan dengan rata- rata penilaian
93% dengan kategori sangat baik. Menurut validator, produk CBT ini sudah
memenuhi syarat sebagai produk pengukuran kemampuan siswa yang baik.
Unsur-unsur multimedia berupa teks, gambar, animasi dan audio sudah dipenuhi
dan disajikan dengan sangat baik di dalam produk CBT ini. Untuk materi soal,
dianggap cukup mewakili indikator ketercapaian dari materi-materi pelajaran
yang harus dikuasai siswa.
Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa produk Computer
Based Testing (CBT) yang dikembangkan sudah sangat baik, dan tergolong pada
kategori valid. Suatu produk dikatakan valid seperti diterangkan oleh Gay
(1983) dan Johnson (2002) dalam Sukardi (2011 : 30), apabila instrument yang
digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur.
Pada
tahap evaluasi atau uji coba, siswa
mencoba menggunakan media CBT menggunakan komputer. Siswa sangat antusias
melaksanakan latihan dan pengukuran kemampuan berfikir mereka pada bagian
evaluasi. Perbedaan kemampuan siswa untuk mengukur penggunaan program dari 15
siswa tidak terlalu mencolok. Siswa dengan kemampuan tinggi, melakukan latihan
dan evaluasi pembelajaran dengan waktu relative singkat dan tidak banyak
dijelaskan dalam penggunaan program.siswa dengan kemampuan sedang membutuhkan
sedikit penjelasan tambahan. Untuk siswa dengan kemampuan rendah memerlukan
lebih banyak pengarahan pada bagian latihan atau tes agar dapat menjawab
pertanyaan.
Komentar
dari siswa pada saat evaluasi ditindak lanjuti dengan revisi. Salah satu saran
yang penting untuk direvisi menurut peneliti adalah instruksi pengerjaan
latihan yang kurang jelas dan tidak terperhatikan. Dikarenakan posisi instruksi
pengerjaan soal berada di bawah setelah pemilihan latihan soal, maka agar
instruksi pengerjaan latihan atau tes tersebut diperhatikan oleh siswa.
Posisinya dirubah kebagian atas. Revisi ini sangat diperlukan untuk mempermudah
siswa dalam penggunaan program Computer
Based Test (CBT) pada tahap selanjutnya.
Pada
saat pelaksanaan penggunaan produk CBT, peneliti melakukan penggunaan produk
selama 2 jam pelajaran (2 x 40 menit), yang diawali dengan pengarahan pembukaan
menu bantuan atau petunjuk selama 5 menit, selanjutnya siswa diarahkan untuk
membuka menu bantuan materi 5 menit dan dilanjutkan dengan membuka latihan
selama 10 menit. Penggunaan menu evaluasi dilakukan dengan waktu 60 menit.
Peneliti
beranggapan bahwa siswa sudah melakukan pembelajaran seluruh materi yang
dievaluasi pada program CBT tersebut. Tes ini hanya berfokus pada bagian menu
evaluasi saja. Karena itu, peneliti mengarahkan agar guru memberikan tugas yang
lebih mengarahkan kepada fungsi menu dan icon seluruh tampilan Microsoft word
yang sering digunakan.
Komentar
siswa pada evaluasi sangat baik, tidak ada lagi komentar yang perlu ditindak
lanjuti dengan revisi. Ini berarti bahwa produk CBT sudah sesuai dengan
kebutuhan siswa. Namun revisi pada produk tetap dilakukan untuk meningkatkan
kualitas media pada saat ujicoba
lapangan yaitu perbaikan kesalahan pengetikan pada pengarahan pengerjaan soal
dan action scrip yang masih error
pada program Macromedia Flash.
Program
CBT yang dihasilkan dalam penelitian ini memenuhi kriteria sebagai produk yang
praktis, karena mudah dipahami, menarik dan mampu mempersempit ruang gerak dari
siswa untuk melakukan kecurangan pada saat evaluasi. Berdasarkan dari hasil
observasi evaluasi diperoleh rata-rata keaktifan siswa tergolong sangat baik.
Tidak ada siswa yang merasa jenuh selama proses evaluasi.
Hal
yang menarik yang peneliti temukan dalam evaluasi adalah siswa sangat menyukai
latihan atau tes soal, dikarenakan dalam tes tersebut, siswa tidak terbebani
untuk menemukan kesalahan namun melatih mereka untuk melakukan langkah yang
benar dalam mengenali fungsi dan kegunaan icon dari menu Microsoft word. Siswa
tidak merasa tertekan pada saat mengerjakan soal evaluasi, bahkan merasa
seperti game untuk mengukur kemampuan mereka dengan motivasi mencapai skor
tertinggi. Hal ini seperti di kemukakan oleh aryawan (2012 : 55), bahwa “Game
tidak selamanya identik dengan kejelekan. Karena ada banya juga game yang baik
yang tidak saja menghibur tetapi juga memiliki nilai-nilai edukasi di
dalamnya.”
Sisi
suatu aplikasi game adalah keinginan untuk berulang mencobanya. Maka diharapkan
aplikasi evaluasi yang seperti game ini, diharapkan mempunyai efek yang sama.
Sehingga berdampak positif, karena siswa terus berulang mempelajari
kesalahan-kesalahan dalam menjawab soal yang ada. Dengan mempelajari
kesalahan-kesalahan dalam menjawab soal yang ada. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa multimedia interaktif yang dikembangkan sudah baik dan
tergolong kategori yang praktis.
2.
Efek
Potensial Computer Based Testing
(CBT) yang dihasilkan pada penerapannya
a. Terhadap
motivasi belajar siswa
Dari
hasil observasi yang dilaksanakan pada ujicoba lapangan terlihat bahwa siswa
antusias dan semangat dalam mengulang latihan dan melaksanakan evaluasi.nilai
descriptor aspek keseriusan penggunaan produk CBT mencapai skor penuh 100% yang
artinya siswa sangat termotivasi. Pada perbandingan pelaksanaan ujian praktek,
mempunya efek negatife terhadap kebutuhan waktu pelaksanaan ujian yang lama.
Terlihat keunggulan alat instrument penilaian ini dalam efisien waktu.
Siswa
dalam pelaksanaan uji coba lapangan, setelah mengetahui hasil penilaian yang
muncul 80% menginginkan untuk dapat mengikuti kembali evaluasi. Artinya keingin
siswa dalam memperbaiki nilai sangat tinggi. Dari efek motivasi tersebut, juga
meningkatkan keinginan siswa untuk belajar kembali terhadap fungsi menu dan
icon yang ada di Microsoft word.
b. Terhadap
pengukuran hasil belajar siswa.
Dalam
aktifitas penggunaan CBT, siswa menjawab soal-soal yang ada dengan tidak
mengganggu teman lain. Potensi kejujuran dan kemurnian hasil nilai ujian
menurut observasi 80% siswa jujur dalam evaluasi ini. Dari segi kebutuhan waktu
dalam mengukur hasil belajar siswa, menurut observasi alat CBT ini mempunyai
ketepatan waktu 80% dengan jumlah soal 60, siswa dapat mengerjakannya kurang
dari 60 menit.
Evaluasi
belajar siswa pada kegiatan pembelajaran pada tahap uji lapangan menunjukkan
hasil yang baik. Sebelum pelaksanaan evaluasi dengan CBT dilakukan pre-test
untuk melihat hasil pengukuran kemampuan siswa dari kegiatan pembelajaran yang
telah dilakukan. Perbandingan nilai rata-rata pre-test dan nilai dengan CBT
yang dibuat, menunjukkan rentangan nilai yang tidak begitu mencolok. Hal ini
disebabkan karena materi yang diujikan sama dengan yang dilakukan pada
pre-test.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1. Berdasarkan
proses penelitian, telah dihasilkan produk CBT pada mata pelajaran TIK dengan
materi pelajaran program pengolahan kata yang teruji validitas dan
kepraktisannya. Berdasarkan proses penelitian, telah diketahui juga hasil
tingkat kepraktisan CBT ini dalam mengukur kemampuan siswa di kelas VIII SMP N
1 Kubung Kab. Solok. CBT yang dihasilkan menarik bagi siswa, mudah dioperasikan
dan membuat siswa bersemangat dalam melaksanakan evaluasi. Dapat juga dikatakan
alat penilaian ini reliable, karena hasil pengukuran mempunya rentang nilai
yang hamper sama antar hasil ujian praktek sesungguhnya dengan simulasi ujian
praktek pada media yang dihasilkan.
2. Dari
hasil ujicoba lapangan kepada siswa kelas VIII SMP N 1 Kubung Kab. Solok
menunjukkan bahwa CBT pada pengukuran kemampuan menggunakan Microsoft Word 2007
dapat menjaga keobjektifan penilaian, meningkatkan motivasi belajar siswa
seperti pada penggunaan menu latihan yang disediakan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa CBT pada pembelajaran TIK yang dihasilkan pada pengukuran
kemampuan Microsoft word 2007 mempunyai efek potensial terhadap motivasi
belajar siswa.
Berdasarkan
pada hasil penelitian dan kesimpulan diatas, saran-saran yang dapat diberikan
sebagai berikut.
1. Guru
SMP N 1 Kubung dapat mengembangkan Computer
Based Testing (CBT) pada pembelajaran TIK ataupun bidang studi yang lain.
2. Bagi
siswa dapat memanfaatkan media CBT ini sebagai alat ukur dan melatih kemampuan
dalam pelajaran TIK khususnya materi pengolahan kata Microsoft Word 2007.
3. Sekolah
dapat menggunakan instrument penilaian ini untuk mengukur kemampuan siswa yang
valid dan objektif, serta mengembangkannya pada evaluasi mata pelajaran
lainnya.