Sabtu, 22 Agustus 2015

Jurnal Computer Based Testing



PENGEMBANGAN TES HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN COMPUTER BASED TESTING (CBT) PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KELAS VIII
DI SMP N 1 KUBUNGKABUPATEN SOLOK


RICHA KRISMA
2011 / 1100347
KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG


Abstract
Research background in SMP Negeri 1 lemur Kab. Solok, it seems that the measurement of student learning outcomes is still less well and test execution with a computer-aided can not be implemented because of inadequate facilities and other constraints. This study aims to generate test program learning outcomes in the subject area Information and Communication Technology (ICT) are valid and practical in measuring learning outcomes.
The method used in this research is research and development. There are three general stages in this research: analysis of needs, which at this stage the researchers conducted a needs analysis of the product. Planning at this stage the researchers conducted the design and development of test programs in two forms, namely paper base and a computer base.
In the paper-based test questions tested the students as much as 20 respondents with a lot of problems there are 60 items and 33 items about 27 items declared valid and invalid matter, further improvements to the matter declared invalid. Then the obtained test the validity of the comparison with the value of 0.64 with a significant level and reliability problems with high releabilitas namely 0.73.
Based on the testing and validation of the test on the medium in which the matter is validated by means of self evaluation by peers and validation by expert review. The tests assessed 94%, which means it has reached the validity. From the results of the assessment CBT products that have been repaired are then tested to the field to determine the practicality, and the results have practicality 82% and also the potential effects of the implementation of the evaluation study with CBT was of 84%.
Kata Kunci : Development, Computer Based Testing (CBT), Information Technology and Communications





Abstrak
            Latar belakang penelitian di SMP Negeri 1 Kubung Kab. Solok, terlihat bahwa pengukuran hasil belajar siswa masih kurang begitu baik dan pelaksanaan ujian dengan berbantuan komputer belum dapat dilaksanakan dikarenakan fasilitas yang belum memadai dan kendala-kendala lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan program tes hasil belajar pada bidang mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang valid dan praktis dalam mengukur hasil belajar.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah research and development. Ada 3 tahap umum yang dilakukan dalam penelitian ini : analisa kebutuhan, dimana pada tahap ini peneliti melakukan analisis kebutuhan produk. Perencanaan pada tahap ini peneliti melakukan perancangan dan pengembangan program tes dalam dua bentuk yaitu paper base dan computer base.
Pada uji coba paper based soal diuji cobakan kepada siswa sebanyak 20 responden dengan banyak soal 60 butir soal dan terdapat 33 item soal dinyatakan valid dan 27 item soal tidak valid, selanjutnya dilakukan perbaikan terhadap soal yang dinyatakan tidak valid. Kemudian di peroleh uji validitas perbandingan dengan nilai 0.64 dengan taraf signifikan dan reliabilitas soal dengan releabilitas tinggi yakni 0.73.
Berdasarkan uji coba dan validasi dimana soal tes pada media ini dilakukan validasi dengan cara self evaluation oleh teman sejawat dan validasi oleh expert review. Hasil validasi dinilai 94% yang berarti telah mencapai kevalidan. Dari hasil penilaian Produk CBT yang telah diperbaiki tersebut maka  di uji coba ke lapangan untuk mengetahui kepraktisannya, dan hasilnya memiliki kepraktisan 82% dan juga efek potensial pelaksanaan evaluasi belajar dengan CBT ini sebesar 84%.

Kata Kunci : Pengembangan, Computer Based Testing (CBT), Teknologi Informasi dan Komunikasi
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan dampak besar dan sangat berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan manusia tak terkecuali pada bidang pendidikan. Salah satu hal menarik yang perlu dikaji bersama adalah sejauh mana peran teknologi informasi bisa memberi jawaban atas permasalahan khususnya di dunia pendidikan.
Teknologi informasi telah membawa perubahan yang signifikan bagi pendidik itu sendiri untuk senantiasa mengevaluasi, memperbaiki dan mengembangkannya menjadi lebih baik lagi, baik dalam penggunaan pendekatan, strategi, metode, model dan media pembelajaran yang digunakan serta dengan perkembangan dan kemajuan teknologi ini telah banyak digunakan dalam berbagai aspek salah satunya dalam system pelaksanaan evaluasi.
Pelaksanaan evaluasi ini bertujuan untuk melakukan pengumpulan data yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan serta mengukur sejauh mana tujuan tersebut tercapai. Sesuai dengan pengertian evaluasi menurut Wandt dan Brown dalam Anas Sudjono (2012 : 7). Evaluation refer to the act or process to determining the value of something yang mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.  Oleh karena itu, cara atau prosedur yang ditempuh untuk memperoleh data dari pengukuran tersebut yakni dengan menggunakan tes berbantuan komputer (Computer Based Testing).
Penerapan CBT telah dilaksanakan di berbagai lembaga dan instansi-instansi pemerintah maupun perguruan tinggi secara resmi sebagai sistem evaluasi. Sistem evaluasi ini sangat menunjang efektifitas penilaian dan pelaksanaan program yang telah diterapkan oleh salah satu instansi pemerintah yakni Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam pelaksanaan tes Ujian Nasional (UN) Computer Based Testing (CBT) pada tahun 2014.
Computer Based Testing ini memungkinkan sekolah untuk memperoleh penghematan, terutama dari sektor pencetakan naskah dan pemindaian, dan juga dengan sistem Computer Based Testing ini akan memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada peserta didik untuk mengikuti ulangan atau tes. Seperti dikemukakan Gladwell (2008), “waktu dan frekuensi tes sangat menentukan kualitas hasil”. Hal lain yang diingatkannya adalah cara menyelenggarakan tes menentukan prestasi. Selain itu juga memberikan keluwesan waktu kepada peserta didik untuk mengikuti tes serta memberikan kecepatan layanan, mulai dari pendaftaran sampai dengan pengumuman. Namun pada penyelenggaraan tes maupun penyelenggaran ujian di sekolah dari tahun ke tahun selalu memunculkan persoalan mulai hal teknis percetakan, kecurangan, hingga dugaan kebocoran dan pemalsuan.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang penulis lakukan pada beberapa siswa dan guru mata pelajaran Teknologi Informasi Komunikasi SMP N 1 Kubung Kab. Solok pada bulan Mei 2015 yang penulis laksanakan pada saat siswa selesai melaksanakan ujian akhir sekolah dan diperoleh sejumlah informasi diantaranya mengenai kenapa dilakukan penilaian tes hasil belajar menggunakan paper base di sekolah pada mata pelajaran TIK. Untuk menjawab hal tersebut, dari hasil survei awal dilapangan didapatkan informasi dari guru-guru yang mengajar TIK bahwa belum adanya instrumen (alat) penilaian yang dapat mengukur hasil belajar siswa secara langsung atau otomatis. 
Namun jika dilakukan ujian dengan berbantuan komputer, menurut hasil wawancara dengan salah satu gutu TIK yaitu bapak Boris Askar (Mei 2015) akan muncul kendala-kendala sebagai berikut : pengawasan jumlah siswa yang terlalu banyak dalam pelaksanaan ujian, waktu pelaksanaan tes yang tidak cukup (terlalu lama), peralatan komputer yang tidak sebanding dengan jumlah siswa, kondisi fasilitas penunjang seperti daya listrik yang tidak selalu baik disetiap sekolah, kondisi komputer yang kadang mengalami kemacetan, bahan ujian praktek yang memerlukan pemeriksaan secara individual tiap-tiap tes.
Serta permasalahan yang kerap dihadapi oleh siswa saat mengikuti ujian yaitu tes dilakukan secara tertulis dalam kertas (paper based test), adanya siswa yang menyontek dan ada memberi contekan sesama siswa. Siswa kebingungan ketika harus berhadapan dengan lembaran soal untuk menjawabnya, padahal selama pembelajaran mereka lebih banyak praktek di laboratorium komputer. Ada juga siswa yang  mengetahui dan memahami materi , namun ketika menjawab soal dilembaran kertas siswa menjadi lupa dan menjawab asal-asalan. Siswa sulit mengingat langkah-langkah dalam menjalankan sesuatu dan saat hal itu ditanyakan maka mereka tidak bisa menjawab dengan tepat serta siswa tidak bisa melihat secara langsung skor yang dicapainya saat ujian.
Berdasarkan permasalahan yang diperoleh pada saat wawancara dan observasi, penulis melihat bahwa pengukuran hasil belajar siswa masih kurang begitu baik dan pelaksanaan ujian dengan berbantuan komputer belum dapat dilaksanakan dikarenakan fasilitas yang belum memadai dan kendala-kendala lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan tes hasil belajar menggunakan Computer Based Testing (CBT) pada mata pelajaran TIK kelas VIII di SMP N 1 Kubung Kab. Solok yang valid, serta mengetahui kelayakan CBT oleh para ahli dan subjek coba. Sehingga para guru bidang TIK, dengan hasil program CBT ini dapat bermanfaat sebagai fasilitas penunjang kemudahan penilai hasil belajar. Bagi siswa, dapat menjadi sarana latihan dan pelajaran TIK kelas VIII SMP yang diharapkan berefek fotensial dalam meningkatkan motifasi belajar.
METODE PENELITIAN
            Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, aka metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau Development Research (Sugiyono, 2009). Model pengembangan yang penulis gunakan yaitu model pengembangan prosedural yang terdiri dari 6 tahap yaitu identifikasi kebutuhan, perencanaan, produksi produk, validasi, uji coba, dan revisi. Penelitian ini akan mengembangkan program tes kemampuan penggunaan Microsoft Word 2007 pada mata pelajaran TIK kelas VIII.
1.      Identifikasi kebutuhan
            Pada tahap ini peneliti melakukan wawancara dengan teman sejawat dan observasi terhadap pelaksanaan latihan dan evaluasi hasil belajar siswa serta menentukan semester dan materi pembelajaran yang akan dibuat dalam media dan instrument penilaian.
2.      Perencanaan
            Tahap perancangan terdiri dari lima langkah. Dari kelima langkah tersebut, tiga langkah pertama merupakan bagian dari desain instrument penilaian. Dua langkah terakhir adalah bagian dari desain media.
3.      Produksi Produk
Pada kegiatan produksi produk, peneliti membuat program yang telah disusun dari kelima langkah diatas. Hasil produksi media yang telah dibuat berbentuk program aplikasi berbasis flash. Program ini terdiri hanya satu file aplikasi macromedia flash.
4.      Validasi
Uji validasi terhadap produk dapat dilakukan oleh ahli yang kompeten pada lembaran penilaian kelayakan media dan keterkaitan standar kompetensi, kompetensi dasar serta indikator pencapaian dengan tes dan kelayakan media. Dalam hal ini yang dilibatkan adalah ahli media dan ahli materi.
5.      Uji coba
Uji coba merupakan upaya untuk melihat kualitas produk menurut Subjek Coba. Subjek coba pada pengembangan produk ini berjumlah 15 siswa kelas VIII SMP N 1 Kubung Kab. Solok. Setelah mendapatkan penilaian dan komentar dari subjek coba, kemudian dilakukan penyempurnaan.
6.      Revisi
Merupakan perbaikan dan penyempurnaan terhadap produk dengan memperhatikan dan menganalisis masukan-masukan yang diperoleh berdasarkan penilaian dan komentar yang diberikan oleh para subjek coba pada tahapan uji coba. Jika dirasa, produk belum layak untuk disebarluaskan maka kembali dilakukan pengembangan produk, validasi produk dan uji coba. Sebaliknya, jika dirasa, produk telah layak untuk digunakan maka produk dapat disebarluaskan
HASIL PENELITIAN
1.      Identifikasi Kebutuhan
Pada tahap identifikasi kebutuhan peneliti melakukan wawancara dengan beberapa siswa serta guru mata pelajaran TIK kemudian melakukan observasi terhadap pelaksanaan latihan dan evaluasi hasil belajar siswa serta menentukan semester dan materi pembelajaran yang akan dibuat dalam media dan instrument penilaian.
2.      Perencanaan
Tahap perancangan terdiri dari lima langkah. Dari kelima langkah tersebut, tiga langkah pertama merupakan bagian dari desain instrument penilaian. Dua langkah terakhir adalah bagian dari desain media.
1) Penentuan tujuan tes
Penentuan tujuan tes sebenarnya dilakukan dari langkah analisis kebutuhan sebelumnya. Secara lengkap penentuan tujuan tes akan melihat Standar Kompetensi (SK) dan kompentensi Dasar (KD) mata pelajaran tersebut. Pada pembelajaran TIK kelas VIII semester genap terdiri dari satu Standar Kompetensi dan empat Kompetensi Dasar.
2) Penyusunan kisi-kisi tes
Penyusunan kisi-kisi tes ini berisikan KD, bahan semester, materi, indikator soal, bentuk tes dan nomor tes.
3) Pengolahan Soal
Pembuatan soal sebanyak 60 butir  yang dijadikan sebagai perangkat tes. Berdasarkan pengolahan data menggunakan Ms. Excel untuk melihat indek kesukaran, validitas dan reliabilitas tes, maka dari hasil yang diperoleh terdapat 39 butir soal dengan kriteria mudah dan 21 butir soal dengan kriteria sedang , untuk mengetahui indeks kesukaran dari soal di peroleh dengan rumus :
Indek kesukaran = 
Untuk mengetahui validitas soal maka diperoleh sejumlah informasi dari 60 butir soal yang diberikan terdapat 33 butir soal yang valid dan 27 butir soal yang tidak valid dengan demikian penulis melakukan revisi pada soal yang dinyatakan tidak valid. Kemudian diperoleh nilai validitas perbandingan 0.64, untuk N=20, nilai taraf signifikansi 0.05 adalah sebesar 0.444 pada tabel korelasi product moment.
Dengan ro>r1 (0.64 > 0.444) sehingga hipotesis nihil ditolak berarti antara variable X dengan variable Y terdapat korelasi positif yang signifikan. Kemudian reliabilitas tesnya berada pada kategori reliabilitas tinggi dengan nilai 0.73 nilai ini berada pada range 0.60 ≤ r11 < 0.79.
4) Menentukan jenis media yang akan digunakan
Pada awal desain, dimulai dengan menentukan media program apa yang akan digunakan. Dalam penelitian ini diputuskan untuk menggunakan program Macromedia Flash 8.
5) Membuat Naskah Pembuatan Media
Naskah pembuatan media dalam istilahnya (paper-based) merupakan perancangan yang dilakukan dengan membuat naskah (storyboard). Tahap ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang bentuk dan isi tampilan pada media.
3.      Uji Coba dan Evaluasi
a)      Evaluasi Diri (Self Evaluation)
Pada tahap ini peneliti melakukan evaluasi terhadap produk Computer Based Testing (CBT) yang dihasilkan. Evaluasi dilakukan untuk melihat validitas produk menurut peneliti dan teman sejawat. Sebagai alat pengukur kevalidan maka perlu diketahui tujuan pembelajaran dan pelaksanaan kegiatan pembelajar yang akan berkaitan dengan evaluasi.
b)      Evaluasi Ahli (Expert Evaluation)
Evaluasi ahli terhadap program CBT ini dilakukan oleh empat orang validator yaitu dua orang ahli materi dan dua orang ahli media.
Persentase respon dari ahli materi =  x 100 = 90% (sangat baik). Dengan hasil 88% maka masuk kategori baik. Oleh karena itu instrument penilaian ini berarti valid dapat diterima.
Persentase respon dari ahli media =  x 100 = 97% (sangat baik). Dengan hasil 97% maka masuk kategori sangat baik. Oleh karena itu instrument penilaian ini berarti valid dapat diterima. Dari rata-rata kedua validator didapatkan :
Validasi expert =  = 94%
Berarti instrument penilaian. Untuk saran validator yang telah diperbaiki dapat dilihat pada lampiran validasi. Berdasarkan pada total rata-rata validasi diatas dapat dijelaskan bahwa penilaian pertama yang dihasilkan sudah memenuhi kriteria, namun diperlukan beberapa revisi. Saran-saran dari ahli yang terlampir dijadikan masukan untuk revisi penilaian.
Dapat dijelaskan bahwa produk CBT dikembangkan berdasarkan dari masukkan-masukkan yang diberikan validator pada produk CBT. Bagian-bagian yang perlu diperbaiki adalah warna background, jenis tulisan, suara tombol, suara narator dan score akhir tes evaluasi. Setelah dilakukan perbaikan, maka produk CBT dinyatakan valid, dan evaluasi dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
c)      Evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation)
Evaluasi satu-satu (one-to-one) dilakukan dengan tiga orang siswa dari kelas VIII siswa yang dipilih mewakili siswa dengan kemampuan rendah, sedang dan tinggi. Penggunaan instrument penilaian ini dilaksanakan dengan menggunakan PC komputer. Pada instrument penilaian siswa akan diberikan empat pertanyaan kemudian siswa dapat memberikan respon.
Tujuan pengukuran respon siswa terhadap penggunaan instrument penilaian adalah untuk mengetahui tingkat kepraktisan dari instrument penilaian ini. Dijelaskan bahwa 3 siswa pada evaluasi satu-satu sudah dapat menggunakan media instrument penilaian yang dikembangkan dengan membaca terlebih dahulu menu bantuan. Namun untuk latihan salah satu siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan. Hal ini dikarenakan petunjuk pengerjaan yang tidak dibaca, karena posisi petunjuk berada dibawah.
Jika dilihat dari hasil pengukuran kepraktisan yang dibuat pada tabel 6. Dapat diambil kesimpulan bahwa produk CBT memiliki tingkat kepraktisan sangat baik dengan 92%.
Berdasarkan masukan dari validator, komentar dan tanggapan siswa pada evaluasi one-to-one, dilakukan revisi terhadap produk CBT, untuk dikembangkan menjadi  produk yang berkualitas.
d)     Evaluasi kelompok kecil (small group)
Evaluasi kelompok kecil (small group) dilakukan dengan lima belas siswa dari SMP N 1 Kubung pada tanggal 09 Juni 2015. Pemilihan siswa didasarkan pada kemampuan siswa, yang mewakili karakter siswa yang akan menjadi objek penelitian.
Dari penilaian angket siswa terhadap produk CBT memiliki nilai presentase rata-rata total 82% yang artinya sangat baik. Hal ini berarti bahwa CBT sudah memenuhi kriteria sebagai alat instrument penilaian yang praktis.
Jika mengukur kevalidan dari segi penilaian, maka dapat dilihar dari perbandingan nilai ujian praktek dengan program sesungguhnya (Microsoft Word) dengan hasil ujian menggunakan Computer Based Testing (CBT). Tabel 9 dibawah ini akan menghitung rengtang nilai dari kedua cara tersebut.
Produk CBT yang sudah dikembangkan dengan uji coba lapangan,  dilakukan untuk melihat efek potensial terhadap hasil belajar siswa. Uji coba ini dilaksanakan pada kelas VIII SMP N 1 Kubung pada tanggal 09 Juni 2015. Sebelum pelaksanaan penggunaan hasil produk CBT, siswa diberikan pre-test untuk melihat kemampuan awal siswa hasil belajar. Pre-test dilakukan dengan 2 bentuk yaitu dalam bentuk soal pilihan ganda dan dalam bentuk soal ujian praktek.
Selanjutnya penilaian efek potensial dari praktikalitas media pada saat uji coba, berdasarkan hasil observasi selama kegiatan tes dengan uji coba. Pada kegiatan evaluasi siswa yang dilakukan oleh 15 observer adalah sebagai berikut :
a)      Keseriusan siswa selama mengerjakan evaluasi. Dari hasil observasi, 15 orang siswa Nampak sangat serius saat menjawab soal-soal yang ada. 100% serius.
b)      Kesesuai kebutuhan waktu dengan kemampuan siswa dalam mengerjakan evaluasi. Dari 15 orang yang melakukan evaluasi, hanya satu orang siswa yang sangat lambat dalam mengerjakan soal. Dari observasi tersebut 15 : 2 = 80% kebutuhan waktu mencukupi.
c)      Potensi keamanan dari keinginan siswa untuk mencontek (seperti: berdiri, menghampiri teman, bertanya-tanya dengan teman). Hanya ada dua orang siswa mencoba bertanya pada teman. Namun tidak mendapatkan hasil. Setelah itu, siswa Nampak sibuk dengan komputernya masing-masing. 80% siswa jujur dalam evaluasi ini.
d)     Potensi motifasi siswa dalam mencoba kembali alat instrument penilaian ini. Dari 15 orang siswa setelah melakukan evaluasi, 10 siswa meminta untuk dapat mengulang kembali evaluasi. 80% siswa termotifasi untuk mencoba kembali ujian.
e)      Potensi peningkatan motivasi untuk mengikuti pembelajaran remedial maupun pengayaan guna perbaikan dan peningkatan nilai yang dicapai.
Setelah mengetahui tingkat nilai yang mereka dapatkan, 9 orang mencoba untuk membuka latihan untuk mempelajari kembali apa yang salah dari jawaban yang mereka berikan. 4 orang mencoba untuk mengulang evaluasi tanpa seizing pengawas, pada waktu yang tersisa untuk memperbaiki nilai. Dari hal tersebut, potensi semangat dalam penggunaan media ini dapat dikatakan  80% siswa sangat berkeinginan menuntaskan dan mendapatkan nilai yang tinggi dengan alat evaluasi tersebut. Tanpa rasa yang membosankan buat mereka.
            Jadi, efek potensial juga terlihat dari hasil observasi dari lima kriteria penilaian hasil observasi 84%.
4.      Revisi
Revisi merupakan perbaikan dan penyempurnaan terhadap produk dengan memperhatikan dan menganalisis masukan-masukan yang diperoleh berdasarkan penilaian dan komentar yang diberikan oleh para subjek coba pada tahapan uji coba antara lain :  a)  Menu petunjuk seharusnya diletakkan di atas.
b)      Penentuan skor total setelah menjawab tes evaluasi.
Dari komentar yang diberikan oleh siswa tersebut, penulis sudah melakukan revisi kembali terhadap produk CBT atas komentar yang diberikan oleh subjek coba.

A.    Pembahasan
1.      Validitas dan Pratikalitas Pengembangan Computer Based Testing (CBT)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan tes hasil belajar menggunakan Computer Based Testing (CBT) pada mata pelajaran TIK kelas VIII. Instrument penilaian atau tes yang dihasilkan telah teruji validitasnya. Berdasarkan hasil uji validasi dari exper (pakar) menunjukkan bahwa CBT yang di uji cobakan sudah memenuhi syarat kesesuaian dari aspek materi pelajaran dengan soal-soal yang dibuat, selain itu simulasi pertanyaan dan jawaban juga sudah mewakili kondisi praktek yang ada.
Gronlund dalam Sukardi (2011 : 29) Mengemukakan bahwa valid dapat diartikan sebagai ketepatan interpretasi yang dihasilkan dari skor tes atau instrument evaluasi.
Validator media dan materi memberikan penilaian cukup valid terhadap produk CBT  yang dihasilkan dengan rata- rata penilaian 93% dengan kategori sangat baik. Menurut validator, produk CBT ini sudah memenuhi syarat sebagai produk pengukuran kemampuan siswa yang baik. Unsur-unsur multimedia berupa teks, gambar, animasi dan audio sudah dipenuhi dan disajikan dengan sangat baik di dalam produk CBT ini. Untuk materi soal, dianggap cukup mewakili indikator ketercapaian dari materi-materi pelajaran yang harus dikuasai siswa.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa produk Computer Based Testing (CBT) yang dikembangkan sudah sangat baik, dan tergolong pada kategori valid. Suatu produk dikatakan valid seperti diterangkan oleh Gay (1983) dan Johnson (2002) dalam Sukardi (2011 : 30), apabila instrument yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur.
Pada tahap evaluasi atau uji coba,  siswa mencoba menggunakan media CBT menggunakan komputer. Siswa sangat antusias melaksanakan latihan dan pengukuran kemampuan berfikir mereka pada bagian evaluasi. Perbedaan kemampuan siswa untuk mengukur penggunaan program dari 15 siswa tidak terlalu mencolok. Siswa dengan kemampuan tinggi, melakukan latihan dan evaluasi pembelajaran dengan waktu relative singkat dan tidak banyak dijelaskan dalam penggunaan program.siswa dengan kemampuan sedang membutuhkan sedikit penjelasan tambahan. Untuk siswa dengan kemampuan rendah memerlukan lebih banyak pengarahan pada bagian latihan atau tes agar dapat menjawab pertanyaan.
Komentar dari siswa pada saat evaluasi ditindak lanjuti dengan revisi. Salah satu saran yang penting untuk direvisi menurut peneliti adalah instruksi pengerjaan latihan yang kurang jelas dan tidak terperhatikan. Dikarenakan posisi instruksi pengerjaan soal berada di bawah setelah pemilihan latihan soal, maka agar instruksi pengerjaan latihan atau tes tersebut diperhatikan oleh siswa. Posisinya dirubah kebagian atas. Revisi ini sangat diperlukan untuk mempermudah siswa dalam penggunaan program Computer Based Test (CBT) pada tahap selanjutnya.
Pada saat pelaksanaan penggunaan produk CBT, peneliti melakukan penggunaan produk selama 2 jam pelajaran (2 x 40 menit), yang diawali dengan pengarahan pembukaan menu bantuan atau petunjuk selama 5 menit, selanjutnya siswa diarahkan untuk membuka menu bantuan materi 5 menit dan dilanjutkan dengan membuka latihan selama 10 menit. Penggunaan menu evaluasi dilakukan dengan waktu 60 menit.
Peneliti beranggapan bahwa siswa sudah melakukan pembelajaran seluruh materi yang dievaluasi pada program CBT tersebut. Tes ini hanya berfokus pada bagian menu evaluasi saja. Karena itu, peneliti mengarahkan agar guru memberikan tugas yang lebih mengarahkan kepada fungsi menu dan icon seluruh tampilan Microsoft word yang sering digunakan.        
Komentar siswa pada evaluasi sangat baik, tidak ada lagi komentar yang perlu ditindak lanjuti dengan revisi. Ini berarti bahwa produk CBT sudah sesuai dengan kebutuhan siswa. Namun revisi pada produk tetap dilakukan untuk meningkatkan kualitas media  pada saat ujicoba lapangan yaitu perbaikan kesalahan pengetikan pada pengarahan pengerjaan soal dan action scrip yang masih error pada program Macromedia Flash.
Program CBT yang dihasilkan dalam penelitian ini memenuhi kriteria sebagai produk yang praktis, karena mudah dipahami, menarik dan mampu mempersempit ruang gerak dari siswa untuk melakukan kecurangan pada saat evaluasi. Berdasarkan dari hasil observasi evaluasi diperoleh rata-rata keaktifan siswa tergolong sangat baik. Tidak ada siswa yang merasa jenuh selama proses evaluasi.
Hal yang menarik yang peneliti temukan dalam evaluasi adalah siswa sangat menyukai latihan atau tes soal, dikarenakan dalam tes tersebut, siswa tidak terbebani untuk menemukan kesalahan namun melatih mereka untuk melakukan langkah yang benar dalam mengenali fungsi dan kegunaan icon dari menu Microsoft word. Siswa tidak merasa tertekan pada saat mengerjakan soal evaluasi, bahkan merasa seperti game untuk mengukur kemampuan mereka dengan motivasi mencapai skor tertinggi. Hal ini seperti di kemukakan oleh aryawan (2012 : 55), bahwa “Game tidak selamanya identik dengan kejelekan. Karena ada banya juga game yang baik yang tidak saja menghibur tetapi juga memiliki nilai-nilai edukasi di dalamnya.”
Sisi suatu aplikasi game adalah keinginan untuk berulang mencobanya. Maka diharapkan aplikasi evaluasi yang seperti game ini, diharapkan mempunyai efek yang sama. Sehingga berdampak positif, karena siswa terus berulang mempelajari kesalahan-kesalahan dalam menjawab soal yang ada. Dengan mempelajari kesalahan-kesalahan dalam menjawab soal yang ada. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa multimedia interaktif yang dikembangkan sudah baik dan tergolong kategori yang praktis.
2.      Efek Potensial Computer Based Testing (CBT) yang dihasilkan pada penerapannya
a.       Terhadap motivasi belajar siswa
Dari hasil observasi yang dilaksanakan pada ujicoba lapangan terlihat bahwa siswa antusias dan semangat dalam mengulang latihan dan melaksanakan evaluasi.nilai descriptor aspek keseriusan penggunaan produk CBT mencapai skor penuh 100% yang artinya siswa sangat termotivasi. Pada perbandingan pelaksanaan ujian praktek, mempunya efek negatife terhadap kebutuhan waktu pelaksanaan ujian yang lama. Terlihat keunggulan alat instrument penilaian ini dalam efisien waktu.
Siswa dalam pelaksanaan uji coba lapangan, setelah mengetahui hasil penilaian yang muncul 80% menginginkan untuk dapat mengikuti kembali evaluasi. Artinya keingin siswa dalam memperbaiki nilai sangat tinggi. Dari efek motivasi tersebut, juga meningkatkan keinginan siswa untuk belajar kembali terhadap fungsi menu dan icon yang ada di Microsoft word.
b.      Terhadap pengukuran hasil belajar siswa.
Dalam aktifitas penggunaan CBT, siswa menjawab soal-soal yang ada dengan tidak mengganggu teman lain. Potensi kejujuran dan kemurnian hasil nilai ujian menurut observasi 80% siswa jujur dalam evaluasi ini. Dari segi kebutuhan waktu dalam mengukur hasil belajar siswa, menurut observasi alat CBT ini mempunyai ketepatan waktu 80% dengan jumlah soal 60, siswa dapat mengerjakannya kurang dari 60 menit.
Evaluasi belajar siswa pada kegiatan pembelajaran pada tahap uji lapangan menunjukkan hasil yang baik. Sebelum pelaksanaan evaluasi dengan CBT dilakukan pre-test untuk melihat hasil pengukuran kemampuan siswa dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Perbandingan nilai rata-rata pre-test dan nilai dengan CBT yang dibuat, menunjukkan rentangan nilai yang tidak begitu mencolok. Hal ini disebabkan karena materi yang diujikan sama dengan yang dilakukan pada pre-test.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1.   Berdasarkan proses penelitian, telah dihasilkan produk CBT pada mata pelajaran TIK dengan materi pelajaran program pengolahan kata yang teruji validitas dan kepraktisannya. Berdasarkan proses penelitian, telah diketahui juga hasil tingkat kepraktisan CBT ini dalam mengukur kemampuan siswa di kelas VIII SMP N 1 Kubung Kab. Solok. CBT yang dihasilkan menarik bagi siswa, mudah dioperasikan dan membuat siswa bersemangat dalam melaksanakan evaluasi. Dapat juga dikatakan alat penilaian ini reliable, karena hasil pengukuran mempunya rentang nilai yang hamper sama antar hasil ujian praktek sesungguhnya dengan simulasi ujian praktek pada media yang dihasilkan.
2.   Dari hasil ujicoba lapangan kepada siswa kelas VIII SMP N 1 Kubung Kab. Solok menunjukkan bahwa CBT pada pengukuran kemampuan menggunakan Microsoft Word 2007 dapat menjaga keobjektifan penilaian, meningkatkan motivasi belajar siswa seperti pada penggunaan menu latihan yang disediakan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa CBT pada pembelajaran TIK yang dihasilkan pada pengukuran kemampuan Microsoft word 2007 mempunyai efek potensial terhadap motivasi belajar siswa.
Berdasarkan pada hasil penelitian dan kesimpulan diatas, saran-saran yang dapat diberikan sebagai berikut.
1.      Guru SMP N 1 Kubung dapat mengembangkan Computer Based Testing (CBT) pada pembelajaran TIK ataupun bidang studi yang lain.
2.      Bagi siswa dapat memanfaatkan media CBT ini sebagai alat ukur dan melatih kemampuan dalam pelajaran TIK khususnya materi pengolahan kata Microsoft Word 2007.
3.      Sekolah dapat menggunakan instrument penilaian ini untuk mengukur kemampuan siswa yang valid dan objektif, serta mengembangkannya pada evaluasi mata pelajaran lainnya.